Sabtu, 06 Oktober 2012

RESENSI FILM THE COMPANY MEN


Bobby Walker adalah salah satu korban PHK  di sebuah perusahaan ternama di U.S yang dikarenakan adanya krisis ekonomi di Amerika Serikat.. Sang istri yang mengetahui situasi suaminya begitu cukup tegar menghadapi semuanya. Namun berbeda dengan Bobby yang tidak begitu menerima keadaan. Secara dia dulu seorang yang memiliki jabatan cukup tinggi perusahaan ebut dengan gaji per tahun sekitar $120000, dia juga mampu membeli 1 buah mobil porche. Akan tetapi, dia mencoba melamar kembali menjadi pegawai biasa dengan gaji yang rendah. Dengan sifatnya yang gengsi dan maunya dilihat ber”kelas”, dia pun mencoba melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan dengan gaji yang tidak jauh dari pekerjaan dia sebelumnya. Permasalahan pun akhirnya muncul di tengah keluarganya, rahasia tentang PHK pun akhirnya ketahuan juga oleh orangtuanya karena “kecelakaan kecil” dari anaknya sendiri yang begitu polos. Drew, anak lelaki tertua Bobby begitu prihatin dengan di PHKnya sang ayah. Dia merasa tertekan karena ayahnya suatu saat nanti takutnya tidak dapat membiayai kehidupan dia dan adik serta ibunya lagi setelah sang ayah di PHK. Pasca mengalami pemecatan tersebut, dilema menghantui Bobby, para pekerja hingga Pimpinan Phil Woodward dan Gene McClary tidak bisa berbuat apa-apa akan kondisi seperti itu. Rumah, mobil hingga member golf yang dimiliki Bobby, satu persatu hilang untuk menutupi pinjaman dan hipotek di Bank. Bobby pun akhirnya sedikit demi sedikit merubah sikapnya yang egois, keras kepala, dan gengsinya tersebut. Satu per satu dia harus kehilangan barang dan kegiatan kesayangannya untuk menutupi hutang demi hutang yang terus menumpuk. Dia pun akhirnya, mencoba melamar pekerjaan di suatu perusahaan dengan gaji yang terbilang biasa.
Pendapat pribadi dan kaitannnya dengan teori motivasi :
Menurut pendapat saya keluarga Bobby tidak bisa mengatur perekonomian dengan baik. Dengan gaji Bobby yang $120000/tahun itu sebenarnya sudah bisa membeli porche dan membuat suatu investasi atau semacam asuransi kehidupan jika nantinya ada masalah.
Dan kaitannya dengan teori motivasi hierarki kebutuhan
Dengan dukungan istri (Rosemarie DeWitt) dan anak laki-laki pertamanya, akhirnya Bobby kembali menebalkan muka dan menurunkan egonya dengan bekerja sebagai pekerja keras. Ia bekerja di sebuah konstruksi bangunan di tempat kakak iparnya bekerja sebagai pimpinan.
            Dengan keuletan dan sikap menerima perubahan, niscaya akan membawa diri seseorang menuju kehidupan yang lebih baik dengan caranya sendiri. Dan di setiap kegagalan akan ada hikmahnya dan keluarga atau orang-orang terdekat kitalah yang akan menjadi faktor utama untuk tetap bangkit dari keterpurukan.

Selasa, 18 September 2012

Menuntut Politik Pro Kesejahteraan Bersama

Ahmad Arif - detikNews

'Watuk' bisa diobati, kalau watak tidak. Meskipun pemilu atau pilkada sudah selesai, masih saja actor-aktor dari masing-masing orde tersebut ingin membangun kembali kekuatan dan kekuasaan.

Politik Anak TK

Selama ini politik menjadi isu yang marak diperbincangkan. Masalah politik lebih mendominasi dan seakan-akan masalah politik sajalah persoalan terpenting dalam hidup berbangsa. Perhatian sebagian besar masyarakat disedot untuk masalah-masalah politik.

Bahkan ada penilaian negatif, politik sudah menjadi salah satu mata pencaharian dan sumber nafkah (livelihood) yang cepat saji atau instan. Makna politik tidak lagi dipahami sebagai persoalan distribusi kekuasaan yang salah satu agendanya menciptakan kesejahteraan rakyat.

Rakyat bisa menilai bahwa para elite politik kita sebenarnya tidak memahami substansi politik. Politik dipahami hanya sebagai ajang meraih tangga kekuasaan dan jabatan belaka. Pendapat yang muncul di kalangan masyarakat pun negative.

Politik itu kotor, politik itu penuh kekerasan, politik itu ajang melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme, tidak lain disebabkan oleh oknum-oknum pelaku politik yang menyalahgunakan dunia politik demi kepentingan sendiri maupun golongan tertentu.

Realitas politik justru menjadi realitas yang tidak sehat di masyarakat. Sering kali praktek yang ada menunjukkan bahwa partai-partai politik yang ada baik di tingkat nasional maupun local memiliki tingkat keserakahan dan korupsi yang tidak bisa lagi ditoleransi, juga pelaku politik yang memiliki track record buruk.

Ketika rakyat menjerit menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, para wakil rakyat baik di ekskutif maupun di legislative justru sibuk "adu jotos", "adu syahwat" dan "pamer libido kekuasaan" sesama mereka.

Layaknya murid-murid TK (taman kanak-kanak) yang lagi senang-senangnya bermain dan berksperimen, para politisi itu justeru sedang bermain dan berskperimen dengan politik api yang bisa saja menghanguskan harapan yang telah dititipkan ke pundak mereka.

Bila syahwat, birahi dan libido belum terpenuhi, mereka akan merajuk dan merengek-rengek sembari menserapahi siapa saja yang sedang ada di hadapan dan atau sekitar mereka. Intimidasi pun menjadi senjata.

Ketika orang kebanyakan negeri ini sedang prihatin mempertanyakan masa depan anak-anak mereka, para politikus sibuk berebut lahan basah dan menjajaki kemungkinan aliansi atau membentuk koalisi untuk menyiapkan masa depan kemenangan diri dan partai masing-masing.

Ketika para pencuri ayam, dan para penjahat kelas teri tewas di tangan massa, para koruptor kelas kakap, konglomerat pengemplang uang Negara atau kas daerah, dan provokator pengadu domba rakyat dibiarkan hidup tenang menikmati hasil kejahatan mereka. Kriminalitas rakyat kecil pun kemudian digunakan untuk menutupi ilegalisme penguasa.

Buruknya realitas politik, menunjukkan kuatnya posisi birokrasi dalam sistem dan proses politik. Hal ini terjadi akibat tumbuhnya persepsi bahwa pembangunan adalah prakarsa pemerintah (state sponsored). Salah satu wujud dari persepsi itu dalam pembangunan politik adalah munculnya pembinaan hubungan patron-client antara penguasa dengan masyarakat.

Budaya patron-client ini juga tumbuh di kalangan pelaku politik. Mereka lebih memilih mencari sponsor dari atas, daripada menggali dukungan dari basisnya. Akibatnya, kesejahteraan rakyat terabaikan.

Oleh karena itu, perlu menafsir ulang kembali makna politik dengan dilatarbelakangi sebuah pemahaman, bahwa politik sebenarnya bukan semata-mata untuk membangun kekuasaan, melainkan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Makna politik yang asali harus dikembalikan, yaitu politik seharusnya menjadi sarana untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama.

Politik Pro Kesejahteraan Bersama

Dari sudut pandang filsafat politik, berdasarkan realitas politik yang sedemikian memprihatinkan itu, maka perlu pengambilan jarak dan kritis terhadap realitas politik.

Artinya perlu sebuah perspektif tertentu dan pengujian nilai-nilai, termasuk nilai-nilai moral serta perlu suatu ideal yang melibatkan suatu konsepsi tentang manusia dan kesejahteraannya (Widyawan; 2009).

Politik yang maknanya dipersempit hanya untuk kekuasaan terjadi ketika ruang publik direduksi menjadi pasar. Ketika tekanan adalah hasil, maka ekonomi menjadi perhatian utama. Penyelenggaraan negara direduksi menjadi manajemen kepentingan kelompok-kelompok tertentu atau individu-individu tertentu.

Akibatnya, politik menjadi arena untuk mempertaruhkan kepentingan kelompok dan pribadi serta untuk mendapatkan pengakuan. Politik bukan lagi seperti dikatakan Hannah Arendt sebagai seni untuk mengabadikan diri dengan menjamin kebebasan setiap individu dan mengupayakan kesejahteraan bersama serta keadilan.

Penyempitan makna itu terjadi juga dalam lingkup etika politik. Bila pluralitas ditolak dan diskriminasi dipraktekkan maka bertentangan dengan etika politik. Paul Ricoeur mendefinisikan etika politik sebagai hidup baik bersama dan demi orang lain untuk semakin memperluas lingkup kebebasan dan membangun institusi-institusi yang adil.

Pendekatan pragmatisme yang menjadi ideologi teknokrasi cenderung mengabaikan proses partisipasi dan prosedur parlementer yang menjadi tulang punggung demokrasi.

Tuntutan pertama politik adalah hidup baik bersama dan untuk orang lain. Pada tingkat ini, politik dipahami sebagai perwujudan sikap dan perilaku politikus atau warganegara demi kesejahteraan dan kebaikan bersama.

Politikus yang baik adalah jujur, santun, memiliki integritas, menghargai orang lain, menerima pluralitas, memiliki keprihatinan untuk kesejahteraan umum, dan tidak mementingkan kekuasaanya. Jadi, politikus yang menjalankan etika politik adalah negarawan yang mempunyai keutamaan-keutamaan moral.

Eric Weil mengatakan, politik merupakan suatu gerak yang berangkat dari moral dan melampauinya dalam suatu teori tentang negara Tentu saja politik bukan seperti yang dipahami politikus, tetapi bagi orang yang mencoba mencari makna di dalam politik.

Maka politik beranjak dari moral. Cara pandang moral ini harus mengakar dalam cara pandang politikus yang diorganisir oleh negara agar bisa diterjemahkan dalam relitas politik.

Dengan demikian, semua gerak yang berangkat dari moral harus membawa kepada pernyataan berikut ini: Negara adalah organisasi suatu komunitas yang menyejarah, dengan diorganisir dalam bentuk negara, komunitas itu mampu mengambil keputusan-keputusannya.

Moral sebagai titik tolak politik menjadi penting karena politik akan mengetuk nurani. Orang-orang yang mampu memasuki dimensi moral dalam kehidupannya akan menyesuaikan dengan etika politik dalam praktik-praktik politik.

Tuntutan

Terbukti bahwa realitas politik yang terjadi di saat ini sangat memprihatinkan. Karena itu perbaikan politik menyangkut tiga tuntutan berupa upaya hidup baik bersama dan untuk orang lain, upaya memperluas lingkup kebebasan, dan membangun institusi-institusi yang adil.

Tiga tuntutan itu saling terkait. Hidup baik bersama dan untuk orang lain tidak mungkin terwujud kecuali bila menerima pluralitas dan dalam kerangka institusi-institusi yang adil. Hidup baik tidak lain adalah cita-cita kebebasan: kesempurnaan eksistensi atau pencapaian keutamaan.

Institusi-institusi yang adil memungkinkan perwujudan kebebasan dengan menghindarkan rakyat atau kelompok-kelompok dari saling merugikan. Sebaliknya, kebebasan rakyat mendorong inisiatif dan sikap kritis terhadap institusi-institusi yang tidak adil.

Pengertian kebebasan yang terakhir ini yang dimaksud adalah syarat fisik, sosial, dan politik yang perlu demi pelaksanaan kongkret kebebasan, berupa democratic liberties seperti: kebebasan pers, kebebasan berserikat dan berkumpul dan kebebasan mengeluarkan pendapat.

Salah satu hal yang sangat penting ialah politik, politikus dan produk politik harus ditujukan demi kesejahteraan bersama, utamanya demi mereka yang paling tidak beruntung; Politik perlu dimengerti sebagai kontrol penggunaan kekuatan-kekuatan dalam masyarakat, mobilisasi sumber-sumber daya dan pewujudan berbagai tujuan kolektif.

Politik dengan segala distribusi jabatan, pengambilan keputusan, undang-undang, dan partisipasi rakyat dalam pengambilan keputusan perlu diarahkan demi kesejahteraan bersama.

http://news.detik.com/read/2011/09/21/113615/1727103/471/menuntut-politik-pro-kesejahteraan-bersama

Senin, 09 April 2012


PERAN STRATEGI SDM
DALAM MENGHADAPI PERSAINGAN GLOBAL
Topik: Penanggulangan Dampak Globalisasi Pada Perusahaan
Abstrak
Globalisasi adalah kecenderungan perusahaan untuk memperluas penjualan dan kepemilikan kepada pasar baru di luar negri dan tak di pungkuri hal inilah yang mengakibatkan dampak langsung maupun tidak lagsung terhadap bisnis di Indonesia. Dengan beradanya efek globalisasi munculah suatu perdagangan bebas yang membuat persaingan antar SDM semakin ketat dan tuntutan dunia akan semakin meningkat.
Pada tingakat makro : SDM merupakan salah satu penentu kelangsungan hidup perusahaan namun hingga saat ini dalam menghadapi persaingan yang semakin global, mutu pendidikan di Indonesia masih terbilang rendah. Pemerintah perlu meningkatkan aspek pendidikan di Indonesia, universitas-universitas di Indonesia kalah bersaing dengan universitas-universitas di Asia Tenggara lainnya. Sehingga mutu SDM kita pun juga kalah dengan Asia Tenggara lainnya seperti Singapura dan Malaysia. Dalam menghadapi kondosi yang seperti ini perusahan juga harus mampu berupaya mengembangkan kemampuan-kemampuan baru, produk yang inovatif, komitmen karyawan/karyawati dan dengan cara melakukan program-program pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia.
Pada tingkat mikro : Di era globalisasi perusahaan dituntut untuk berpikir global dan mempunyai visi, misi yang berwawasan kedepan dan suatu strategi yang tepat dan didukung dengan strategi SDM dan budaya perusahaan yang tepat pula. Kemudian barulah dirumuskan secara logis, jelas dan aplikabel. Ketidaksesuaian antara strategi SDM dan strategi perusahaan dapat mempengaruhi pencapaian sasaran suatu perusahaan. Sebaliknya apabila terjadi suatu kesesuaian akan menjadi suatu dorongan kreativitas dan inovasi karyawan dalam mencapai sasaran perusahaan. Perusahaan perlu mengkaji dan menganalisis kebutuhan dan kesenjangan SDM terhadap strategi perusahaan masa kini dan masa mendatang. Aset SDM yang perlu dievaluasi adalah bobot/kualitas dan potensi SDM yang dimiliki saat ini dan masa mendatang ,kebijakan-kebijakan SDM, dan sisitem pengadaan. Dengan demikian faktor eksternalpun perlu diperhatikan antara lain adalah future trends and needs, demand and supply, perubahan sosial, teknologi, demografis, dan potensi pesaing.
Strategi yang tepat dengan mempertimbangkan aktivitas-aktivitas  manajemen adalah :
1.    Predeksi SDM perlu dilkukan secara kualittif dan kuantitatif
2.    Pelatihan dan pengembangan perlu mengacu pada motivasi dn nilai-nilai yang diharapkan
3.    Penanaman nilai yang menekankan pada paradigma learning organization.

Teori
1)    Dalam jurnal bagian Strategi SDM, perubahan manajemen SDM juga perlu diperhatikan dalam faktor eksternal yang seperti terdapat dalam jurnal paragraf ke 2,kalimat ke 2 dan seperti yang dijelaskan juga dalam buku Gery Dessler bab 1 hal 10-13 yang mengemukakan bahwa perubahan eksternal antara lain kemajuan teknologi, sifat pekerjaan, demografis dan perubahan social budaya.
2)    Dalam jurnal bagian Strategi SDM yaitu SDM  perlu di persiapkan secara baik khususnya oleh perusahaan – perusahaan agar mampu menghasilkan SDM yang mampu bersaing di tingkat dunia. Yang juga di jelaskan pada buku Gerry Dessler hal 14.
3)    Strategi yang tepat harus di aplikasikan untuk meraih keberhasilan melalui pemanfaatan peluang – peluang yang ada pada lingkungan bisnis yang bergerak cepat dan semakin kompetitif. Yang juga terdapat di halaman 87 pada buku Gery Dessler.

Kesimpulan
Globalisasi menurut Gerry Dessler adalah suatu kecenderungan dalam perusahaan untuk mengembangkan/memperluas penjualan, kepemilikan, dan/atau manufaktur kepada pasar baru di luar negeri. Secara langsung maupun tidak langsung globalisasi ini sendiri mempunyai dampak tersendiri bagi bisnis di Indonesia. Terlebih lagi bila memang harus terjadi suatu perdagangan bebas. Dengan tingkat mutu SDM Indonesia yang terbilang rendah maka akan terjadi peningkatan pesaing antar SDM. Bila dilihat pada tingkat makro, seharusnya pemerintah perlu memperbaiki mutu SDM dengan mengembangkan pendidikan di Indonesia agar tidak tertinggal dan di dukung oleh pelatihan-pelatihan khusus di perusuhaan tersebut. Pada tingkat mikro, perusahaan perlu membuat misi, visi yang berwawasan kedepan dan dengan didukung oleh strategi perusahaan dan  strategi SDM yang tepat pula guna mengembangkan kekreatifan pegawai yang berdampak pada pencapaian tujan perusahaan itu sendiri.

Saran
Memang pada kenyataannya mutu SDM di Indonesia masih terbilang rendah dibanding dengan SDM di Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia dan Singapura namun Indonesia tak harus berdiam diri dengan ketertinggalannya mutu pendidikan yang menjadi penunjang bagi SDM. Peningkatan mutu SDM dengan cara memberikan suatu program-program pelatihan khusus yang mengacu pada dunia usaha ini mungkn dapat memberikan peningkatan kekreatifan pada SDM di Indonesia agar tidak lebih tertinggal.

Selasa, 03 April 2012

DAMPAK GLOBALISASI PADA DUNIA BISNIS


Pendahuluan
Globalisasi adalah kenyataan dan akan mempunyai dampak langsung maupun tidak langsung pada kebanyakan aspek di bisnis. Perusahaan meningkatakan strategi guna meyesuaikan di saat era globalisasi ini agar dapat tepat sasaran dalam bisnisnya. Namun tidak sedikit pula dari mereka yang tidak memperhitungkan implikasi langsung strategi perusahaan tersebut terhadap sumber daya manusia.


Rangkuman artikel
 Istilah globalisasi ini sendiri sudah sering di pergunakan dalam dunia bisnis. Namun banyak yang kurang memperhatikan implikasi globalisasi pada manajemen sumber daya manusia. Fakta menunjukkan bahwa, SBU (Strategic business unit) maupun fungsional sangat penting dan menentukan. Namun tepatkah program pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia ini  dilakukan guna menanggapi suatu perubahan lingkungan yang sangat cepat?
Capital intellectual dan pengukurannya akhir-akhir ini sering di pertimbangkan sebagai alternatif yang menjanjikan guna mengukur keefektifan organisasi dan aktifitas sumber daya manusia kendati implementasinya tidak semudah yang di perkirakan. Pada abad 20 pelaku bisnis harus mampu mengintegrasikan semua dimensi lingkungan hidup dengan kata lain pelaku bisnis harus mampu menghadapi berbagai isu seperti hak paten, royalti, ecolabelling, etika bisnis, upah minimum pekerja, tuntutan pelanggan secara bijaksana. Selain itu flexibility dan continuous learning merupkan karakteristik yang sangat penting untuk menjawab tantangan bebas yang kompetitif. Perusahaan harus mampu memberikan layanan yang luar biasa pada pelanggan, pengembangan kemampuan-kemampuan baru, produk baru yang inovatif,  komitmen pegawai, perusahaan juga harus mempunyai visi dan misi yang jauh berwawasan ke depan guna memenangkan persaingan di pasar global.
Sumber daya manusia merupakan penggerak roda pembangunan. Namun di Indonesia untuk mendapatkan calon karyawan yang berkualitas dan profesional sangatlah sulit didapatkan hal tersebut di karenakan ketidak sesuaian antara job requirements dengan kompetensi calon. Dan tenaga profesional asing masih banyak di perkerjakan terutama di perusahaan besar yang berorientasi internasional. Dunia bisnis akan semakin berorientasi global terlebih lagi jika implementasi perdagangan bebas menjadi kenyataan. Peranan pelaku bisnis dalam mengidentifikasikan bisnis masa depan, menganalisis, merencanakan serta mengimplementasi strategi yang tepat sangat esensial dan menentukan misalnya melalui transformasi organisasi. Menurut Taylor ada beberapa tindakan yang harus dilakukan dalam melakukan transformasi organisasi adalah
a)  Strectch goals yang mensyaratkan bahwa sasaran yang harus spesifik dan dapat diukur
b)  Visi masa depan
c)  Struktur yang ramping
d)  Budaya baru yang mengacu pada profesionalisme, keterbukaan dan kerjasama kelompok
e)  Berorientasi pada mutu atau layanan berkelas dunia
f)   Manajemen prestasi
g)  Inovasi menyeluruh
h)  Kemitraan dan jaringan kerja

Strategi SDM berkaitan antara lain dengan pembentukan suatu budaya perusahaan yang tepat, perencanaan SDM, mengaudit SDM baik dari segi kuantitatif maupun kualitatif, pemeliharaan dan pelatihan. Network structure dan budaya perusahaan yang mengacu pada inovasi, kreativitas, dan belajar berkesinambungan (countinous learning) merupakan pilihan yang tepat bagi perusahaan-perusahaan yang ingin survive dan berkembang. BNI misalnya melakukan perubahan starategi dan budaya perusahaan untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat di dunia perbankan. Organisasi yang ramping dan juga SDM yang berkualitas mampu membuat BNI bersaing dengan perbankan lain.
Sementara itu di tingkat mikro perusahaan perlu berperan aktif untuk ikut meningkatkan mutu SDM baik. Aset SDM yang harus yang perlu di evaluasi adalah kualitas, kebijakan-kebijakan SDM, pelatihan, pengembangan. Berkaitan dengan aset SDM perlu di ukur sejauh mana elemen-elemen organisasi sudah sesuai dengan strategi korporat, SBU, visi, misi, sasaran perusahan.
Untuk mengevaluasi SDM perlu dipertimbangkan empat faktor sebagai berikut:

1.    Tingkat strategis antara lain visi, misi dan sasaran organisasi
2.    Faktor internal SDM antara lain aset SDT, kualitas SDM, aktivitas SDM
3.    Faktor eksternal antara lain demografis, perubahan sosial, budaya, teknologi
4.    Faktor organisasional antara lain strategi perusahaan, budaya perusahaan, strategi SDM
            Karakteristik bisnis abad 21 yang seolah-olah dunia semakin tanpa batas akan ditandai dengan perdagangan dunia yang komperatif, tuntutan pelanggan semakin tinggi, hak paten, factor lingkungan, product life cycle semakin pendek, inovasi produk cenderung meningkat. Continuous innovativeness perlu dilakukan, kekreativitasan organisasi harus dikembangkan, perusahaan perlu tanggap dalam menghadapi persaingan. Pembudayaan nilai profesional perlu dilakukan dengan seksama dan disertai system yang menunjang. Learning organization membahas lima komponen dasar sebagai berikut :
  • Personal masteri
  • Mental models
  • Shared vision
  • Team learning
  • System thinking

Praharad dan Hamel (1994) mengkritik downsizing yang tidak berorientasi pada kesehatan perusahaan. Sonnenfeld dan Peiperl (1991) mengembangkan suatu model tipologi perusahaan dan implikasinya pada strategi SDM sebagai berikut :  
  •  Fortest. Perusahaa menekankan pada kelangsungan hidup
  • Academy. Perusahaan meekanka pada spesialisasi jabatan
  • Club. Perusahaan bertipologi ini menekankan loyalitas,komitmen,pengalaman
  • Baseball-Team. Perusahaan menekankan pada inovasi

Mengkaitkan konsep tipologi statregi SDM dengan future predictable characteristics akan membrikan gambaran peranan strategi SDM secara jelas yang mendukung. Strategi SDM masa depan harus mendukung inovasi-continuous innovativeness dan long-term employment oriented human resources strategy-untuk menjawab tuntutan pelanggan antara lain menghandaki factor-faktor mutu, fungsi, harga, layanan, dan kecepatan layanan.
            Dengan mengacuh pada karakteristik bisnis masa depan (globalisasi),maka perlu dirumuskan dan diimplementasikan strategi SDM yang tepat dengan mempertimbangkan aktivita-aktiviyas manajemen.

Rangkuman teori
Globalisasi adalah kecenderungan perusahaan untuk memperluas penjualan, kepemilikan, dan/atau manufaktur kepada pasar baru di luar negeri. Globalisasi ini sendiri menjadi tantangan terbesar bagi SDM.
·           Kemajuan teknologi merupakan salah satu penyebab globalisasi, dengan adanya kemajuan teknologi membuat perusahaan-perusahaan kelas duniapun melibatkan teknologi dan juga mengubah sifat pekerjaan.
·           Mengekspor pekerjaan, tekanan persaingan dan pencarian efisiensi yang lebih tinggi juga mendesak para pemilik perusahaan untuk mengekspor pekerjaan ke luar negeri.



Tugas utama dari SDM adalah selalu menyediakan satu set pelayanan yang masuk akal bagi strategi perusahaan. Strategi adalah rencana perusahan untuk menyeimbangkan kekuatan dan kelemahan internalnya dengan kesempatan dan ancaman ekternal dalam mempertahankan keuntungan kompetitif.
·           Penekaan pada Prestasi
       Saat ini, penekanan pada meraih keuntungan kompetitif melalui orang-orang menjadi masukan dari departemen yang membantu untuk menyaring, melatih, menilai dan memberi penghargaan pada karyawan terlalu penting untuk diabaikan ketika perusahaan sedang mengkaji ulang pilihan strateginya.

·           Standar Pengukuran
       Dengan melalui standart pengukuran manajer SDM dapat mengukur prestasi kuantitatif untuk menilai kegiatan SDM.

·           Kartu Nilai SDM
       Manajemen pada akhirnya menilai fungsi SDM dan inisiatifnya berdasarkan apakah SDM mempunyai sebuah nilai bagi perusahaan tersebut, dimana penciptaan nilai berarti suatu kontribusi yang terukur dalam mencapai tujuan strategis perusahaan.

·           Sistem Kerja Kinerja tinggi
       Perusahaan harus mendesain satu set kebijakan SDM dan prakti-praktik yang masuk akal utuk strategi dan situasi perusahaan itu sendiri. Secara spesifik SDM perusahaan bekinerja tinggi antara lain membangkitkan lebih banyak pelamar, penyaringan calon lebih efesien,lebih bayak pelatihan bagi karyawan baru.

Kesimpulan
Globalisasi adalah kecenderungan perusahaan untuk memperluas penjualan, kepemilikan, dan/atau manufaktur kepada pasar baru di luar negeri. Dampak globalisasi sangatlah berpegaruh pada dunia bisnis yag berpengaruh pula pada SDM. SDM perananan penting dalam menunjang pengimplementasian suatu strategi perusahaan. Dunia bisnis akan semakin berorientasi global terlebih lagi jika implementasi perdagangan bebas menjadi kenyataan. Terutama bagi Indonesia karena sangat sulit sekali di jumpai SDM yang  berkualitas dan profesional hal tersebut di karenakan ketidak sesuaian antara job requirements dengan kompetensi calon.
Persaingan yang semakin sulit menempatkan SDM pada posisi kunci dalam perencanaan suatu strategi. Starategi adalah rencana jangka panjang perusahaan untuk meyeimbangkan kekuatan dan kelemahan internalnya dengan kesempatan dan ancaman eksternal dalam mempertahankan keuntungan kompetitif. Kontribusi SDM dapat diukur melalui strategi, standar pengukuran, dan kartu nilai SDM. Dan faktor eksternal yang perlu dipertimbangkan mengacu pada future trends and needs, demand and supply, peraturan pemerintah, kebutuhan manusia, potensi pesaing, perubahan social, demografis, budaya maupun nilai – nilai, dan tekhnologi.
Pendapat
Globalisasi memang mempunyai dampak yang besar bagi SDM namun dengan berkembangya teknologi dan pengetahuan yang luas pula Indonesia juga mampu membuat SDM manusia yang berkualitas. Dengan melakukan pelatihan-pelatihan terhadap pegawai akan membantu mengembangkan kemampuan SDM.
Perusahaan sebagai pelaku bisis juga harus mampu membuat strategi dalam mengidentifikasikan bisnis masa depan, menganalisis, merencanakan serta mengimplementasi strategi yang tepat sangat esensial dan menentukan misalnya melalui transformasi organisasi.